July 22, 2008
Assalamualaikum Samsuri,
Tidak seorang pun dapat mengetahui apa yang akan terjadi jam-jam berikutnya, apalagi esok hari. Ahad (26/12) pagi, Nanggroe Aceh Darussalam bergerak normal, seperti hari-hari sebelumnya. Angin menyapa daun-daun kelapa di pinggir pantai. Ibu-ibu pergi ke pasar. Sebagian anak-anak bermain riang di halaman rumah, ada juga masih tertidur lelap. Tiba-tiba terdengar dentuman sangat keras.
Ya, Allah, gelombang air setinggi empat sampai sepuluh meter bergulung-gulung dan berlari sangat cepat. Ibu-ibu mencoba menggapai anak-anaknya, namun gelombang jauh lebih cepat merampasnya. Anak-anak berlari sekuat ia mampu, namun kaki mereka begitu kecil, langkah mereka tertatih-tatih. Mereka terseret jauh, berpisah, dan tak pernah lagi berjumpa selamanya. Orang-orang di pasar panik, mereka berhamburan menyelamatkan diri. Namun gelombang mendahului mereka, dan mereka hilang entah ke mana.
Gelombang pasang telah memisahkan ibu dengan anaknya, memisahkan suami dengan istrinya, memisahkan orang-orang tercinta. Rumah-rumah roboh, pohon-pohon tumbang. Semua lindap, merapat ke tanah –seperti bersujud. Kaki-kaki kecil itu, kaki para bayi, yang tadinya bergerak lincah, kini kaku selamanya. Ketika air surut, mayat-mayat bergelimpangan. Ribuan jumlahnya. Anak-anak kecil itu, bayi-bayi itu, orang-orang tua renta, perempuan-perempuan, wafat dibalut lumpur. Ada yang tertimbun bersama pepohonan dan rumah yang rubuh.
Ya, Allah, hanya sekejap, hanya sekejap, semua lindap. Kita saksikan bencana di Aceh dan Sumatera Utara ini. Kita saksikan, di layar televisi, ibu-ibu menangis putus asa, mayat-mayat bergeletakan bahkan tersangkut di pohon-pohon. Namun hanya sejenak, setelah itu televisi menayangkan sinetron kehidupan mewah remaja kota, tayangan mistik, dan tari-tarian semiporno — seperti tidak ada bencana. Tidakkah ada sedikit waktu untuk lagu-lagu kebangsaan, membangkitkan rasa nasionalisme, kesetiakawanan sosial. Apa susahnya?
Di kota-kota besar, tak banyak bendera setengah tiang dikibarkan. Seakan tidak terjadi apa-apa. Orang-orang berpunya sedang bersiap-siap untuk pesta akhir tahun di hotel mewah dan keluar negeri. Hotel-hotel dan tempat hiburan menyiapkan paket puluhan juta rupiah. Ya Allah …., terlalu banyak berhala kami sembah: kesenangan dunia, harga diri, kesombongan, dan materi.
Kami lebih suka mencari dunia, lupa pada akhirat. Mencari kehidupan, lupa pada kematian. Kami memburu harta tak henti-hentinya, tapi lupa hanya dalam sekejab ia bisa musnah. Kami mencari kegembiraan, tapi lupa dalam beberapa detik dapat berubah menjadi tangisan. Ya Allah …, kami selalu berpikir dapat melakukan semuanya tanpa campur-tangan-Mu. Kami melakukan apa yang kami kehendaki, tanpa berpikir bahwa kehendak-Mu yang berlaku. Kami berpikir dapat mengatur semuanya, tapi lupa bahwa Kau-lah Maha Penentu. Ya, Allah …, kami tersesat. Beri kami kesempatan untuk pulang.
Di Balik Gempa Bumi dan Gelombang Dahsyat
”Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak menimpa orang-orang zalim di antaramu saja. Dan ketahuilah Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfaal, 8:25). Agaknya, ayat ini perlu hadir ketika berbagai bencana menerpa. Terutama, saat hanya dalam beberapa detik bencana terbesar dalam sejarah Indonesia dan negeri-negeri Asia lainnya merenggut ribuan hingga puluhan ribu saudara kita. Bahwa, bencana-bencana itu tidak bisa disikapi sebatas peristiwa alam biasa. Tapi, juga membawa sebagian siksa Allah serta peringatan yang sangat besar dan menakutkan bagi mereka yang masih di dunia.
Sikap itulah yang segera dihadirkan Khalifah Umar bin Khattab ketika gempa besar melanda. Diriwayatkan oleh Shafiyah binti Ubaid bahwa sesudah gempa Umar berpidato, ”Kalian suka melakukan bid’ah yang tidak ada dalam Alquran, sunah Rasul, dan ijma (kesepakatan umum) para sahabat Nabi, sehingga kemurkaan dan siksa Allah turun lebih cepat.” (Sunan Al Baihaqi). Pernyataan Umar menarik didalami. Beliaulah kepala negara yang begitu adil, termasuk kepada orang kafir, serta teguh dan lurus menjalankan petunjuk Allah selama pemerintahannya. Memang, pernah ada warga protes ketika belum menerima bantuan negara dalam bentuk zakat atau subsidi lainnya. Namun, ketika mereka melapor ke Umar, maka petugas zakat, Maslamah, serta Gubernur Mesir, Amru bin Ash, segera menyelesaikan kewajiban negara itu.
Di masa Umar takkan mungkin ada kemungkaran besar, semacam kemusyrikan, pemurtadan, pembantaian manusia, saling bunuh, judi, prostitusi, dan pengelompokan berdasar fanatisme jahiliyah. Bahkan, korupsi recehan pun tidak dibiarkan, seperti saat Umar menyita hadiah Gubernur Syam Muawiyah kepada ayahnya, Abu Sufyan, yang diduga dari harta negara dan rakyat. Namun, meski ketaatan beliau dan rakyatnya jauh melebihi kita, Umar tetap mengaitkan bencana dengan dosa manusia. Saat itu berbagai kesalahan warga memang mulai terjadi, seperti korupsi, enggan berjihad, atau kalaupun mau tidak lagi semata-mata karena ingin menegakkan kalimah Allah, serta sikap menumpuk harta karena negara telah makmur.
”Sesungguhnya rahmat-Ku (Allah) melebihi kemurkaan-Ku.” (HR Muslim). Selagi ada waktu, mari menangisi dosa-dosa kita, hadirkan sikap takut pada azab-Nya, selalu berharap pada kasih-Nya. Teladanilah pula Umar dalam membantu korban, di mana beliau memerintahkan Gubernur Mesir Amru mengirim bantuan pangan saat Madinah dilanda paceklik. Kala rombongan pertama tiba, yang terakhir baru berangkat. Begitu banyak dan cepat bantuan itu, padahal sebatas menolong orang-orang lapar.
******************************
Download Buku Ilmiah Percuma http://www.forumbuku.net

