Ya Allah, Hanya Sekejap………
July 22, 2008
Assalamualaikum Samsuri,
Tidak seorang pun dapat mengetahui apa yang akan terjadi jam-jam berikutnya, apalagi esok hari. Ahad (26/12) pagi, Nanggroe Aceh Darussalam bergerak normal, seperti hari-hari sebelumnya. Angin menyapa daun-daun kelapa di pinggir pantai. Ibu-ibu pergi ke pasar. Sebagian anak-anak bermain riang di halaman rumah, ada juga masih tertidur lelap. Tiba-tiba terdengar dentuman sangat keras.
Ya, Allah, gelombang air setinggi empat sampai sepuluh meter bergulung-gulung dan berlari sangat cepat. Ibu-ibu mencoba menggapai anak-anaknya, namun gelombang jauh lebih cepat merampasnya. Anak-anak berlari sekuat ia mampu, namun kaki mereka begitu kecil, langkah mereka tertatih-tatih. Mereka terseret jauh, berpisah, dan tak pernah lagi berjumpa selamanya. Orang-orang di pasar panik, mereka berhamburan menyelamatkan diri. Namun gelombang mendahului mereka, dan mereka hilang entah ke mana.
Gelombang pasang telah memisahkan ibu dengan anaknya, memisahkan suami dengan istrinya, memisahkan orang-orang tercinta. Rumah-rumah roboh, pohon-pohon tumbang. Semua lindap, merapat ke tanah –seperti bersujud. Kaki-kaki kecil itu, kaki para bayi, yang tadinya bergerak lincah, kini kaku selamanya. Ketika air surut, mayat-mayat bergelimpangan. Ribuan jumlahnya. Anak-anak kecil itu, bayi-bayi itu, orang-orang tua renta, perempuan-perempuan, wafat dibalut lumpur. Ada yang tertimbun bersama pepohonan dan rumah yang rubuh.
Ya, Allah, hanya sekejap, hanya sekejap, semua lindap. Kita saksikan bencana di Aceh dan Sumatera Utara ini. Kita saksikan, di layar televisi, ibu-ibu menangis putus asa, mayat-mayat bergeletakan bahkan tersangkut di pohon-pohon. Namun hanya sejenak, setelah itu televisi menayangkan sinetron kehidupan mewah remaja kota, tayangan mistik, dan tari-tarian semiporno — seperti tidak ada bencana. Tidakkah ada sedikit waktu untuk lagu-lagu kebangsaan, membangkitkan rasa nasionalisme, kesetiakawanan sosial. Apa susahnya?
Di kota-kota besar, tak banyak bendera setengah tiang dikibarkan. Seakan tidak terjadi apa-apa. Orang-orang berpunya sedang bersiap-siap untuk pesta akhir tahun di hotel mewah dan keluar negeri. Hotel-hotel dan tempat hiburan menyiapkan paket puluhan juta rupiah. Ya Allah …., terlalu banyak berhala kami sembah: kesenangan dunia, harga diri, kesombongan, dan materi.
Kami lebih suka mencari dunia, lupa pada akhirat. Mencari kehidupan, lupa pada kematian. Kami memburu harta tak henti-hentinya, tapi lupa hanya dalam sekejab ia bisa musnah. Kami mencari kegembiraan, tapi lupa dalam beberapa detik dapat berubah menjadi tangisan. Ya Allah …, kami selalu berpikir dapat melakukan semuanya tanpa campur-tangan-Mu. Kami melakukan apa yang kami kehendaki, tanpa berpikir bahwa kehendak-Mu yang berlaku. Kami berpikir dapat mengatur semuanya, tapi lupa bahwa Kau-lah Maha Penentu. Ya, Allah …, kami tersesat. Beri kami kesempatan untuk pulang.
Di Balik Gempa Bumi dan Gelombang Dahsyat
”Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak menimpa orang-orang zalim di antaramu saja. Dan ketahuilah Allah amat keras siksaan-Nya.” (QS al-Anfaal, 8:25). Agaknya, ayat ini perlu hadir ketika berbagai bencana menerpa. Terutama, saat hanya dalam beberapa detik bencana terbesar dalam sejarah Indonesia dan negeri-negeri Asia lainnya merenggut ribuan hingga puluhan ribu saudara kita. Bahwa, bencana-bencana itu tidak bisa disikapi sebatas peristiwa alam biasa. Tapi, juga membawa sebagian siksa Allah serta peringatan yang sangat besar dan menakutkan bagi mereka yang masih di dunia.
Sikap itulah yang segera dihadirkan Khalifah Umar bin Khattab ketika gempa besar melanda. Diriwayatkan oleh Shafiyah binti Ubaid bahwa sesudah gempa Umar berpidato, ”Kalian suka melakukan bid’ah yang tidak ada dalam Alquran, sunah Rasul, dan ijma (kesepakatan umum) para sahabat Nabi, sehingga kemurkaan dan siksa Allah turun lebih cepat.” (Sunan Al Baihaqi). Pernyataan Umar menarik didalami. Beliaulah kepala negara yang begitu adil, termasuk kepada orang kafir, serta teguh dan lurus menjalankan petunjuk Allah selama pemerintahannya. Memang, pernah ada warga protes ketika belum menerima bantuan negara dalam bentuk zakat atau subsidi lainnya. Namun, ketika mereka melapor ke Umar, maka petugas zakat, Maslamah, serta Gubernur Mesir, Amru bin Ash, segera menyelesaikan kewajiban negara itu.
Di masa Umar takkan mungkin ada kemungkaran besar, semacam kemusyrikan, pemurtadan, pembantaian manusia, saling bunuh, judi, prostitusi, dan pengelompokan berdasar fanatisme jahiliyah. Bahkan, korupsi recehan pun tidak dibiarkan, seperti saat Umar menyita hadiah Gubernur Syam Muawiyah kepada ayahnya, Abu Sufyan, yang diduga dari harta negara dan rakyat. Namun, meski ketaatan beliau dan rakyatnya jauh melebihi kita, Umar tetap mengaitkan bencana dengan dosa manusia. Saat itu berbagai kesalahan warga memang mulai terjadi, seperti korupsi, enggan berjihad, atau kalaupun mau tidak lagi semata-mata karena ingin menegakkan kalimah Allah, serta sikap menumpuk harta karena negara telah makmur.
”Sesungguhnya rahmat-Ku (Allah) melebihi kemurkaan-Ku.” (HR Muslim). Selagi ada waktu, mari menangisi dosa-dosa kita, hadirkan sikap takut pada azab-Nya, selalu berharap pada kasih-Nya. Teladanilah pula Umar dalam membantu korban, di mana beliau memerintahkan Gubernur Mesir Amru mengirim bantuan pangan saat Madinah dilanda paceklik. Kala rombongan pertama tiba, yang terakhir baru berangkat. Begitu banyak dan cepat bantuan itu, padahal sebatas menolong orang-orang lapar.
Download Buku Ilmiah Percuma http://www.forumbuku.net
******************************
May 14, 2008
Mati hanya sekali jadikannya pada jalan allah,
Assalamualaikum Samsuri,
Sekiranya kita cinta kepada manusia,
Tak semestinya manusia cinta kepada kita,
Tetapi sekiranya kita cinta kepada allah,
Nescaya cinta allah tiada penghujungnya.
Sekiranya kita cinta kepada manusia,
kita akan cemburu kepada orang yang mencintai
orang yang kita cintai¡¯,
tetapi sekiranya kita cinta kepada allah,
kita akan turut mencintai
orang yang melabuhkan cintanya kepada allah juga.
Ya allah,
andainya dia adalah jodoh yang ditetapkan
oleh-mu kepadaku,
maka campakkanlah dalam hatiku
cinta kepadanya adalah kerana-mu,
dan campakkanlah dalam hatinya,
cinta kepadaku adalah kerana-mu.
Namun, andainya dia bukanlah jodoh yang ditetapkan
oleh-mu kepadaku,
berikanlah ku kekuatan agar pasrah
dalam mengharungi ujian,
yang kau berikan kepadaku.
¨ª ya allah,jika aku jatuh cinta,cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-mu,agar bertambah kekuatanku untuk mencintai-mu.
¨ª ya muhaimin,jika aku jatuh cinta,jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-mu.
¨ª ya rabbana,jika aku jatuh hati,jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada-mu.
¨ª ya rabbul izzati,jika aku rindu, rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-mu.
¨ª ya allah,jika aku rindu, jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindui syurga-mu.
¨ª ya allah, jika aku menikmati cinta kekasih-mu,janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhir-mu
¨ª ya allah,jika aku jatuh hati pada kekasih-mu,janganlah biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-mu.
¨ª ya allah,jika kau halalkan aku merindui kekasih-mu,jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-mu.
Mati hanya sekali jadikannya pada jalan allah,
**************************************************************************************
Download Buku Ilmiah Percuma http://www.forumbuku.net
Langgan Edakwah! Hantar Blank Emel ke
edakwah@getresponse.com
Abu Laits As-Samarqandi adalah adalah seorang ahli fiqh yang mashur. Suatu ketika dia pernah berkata, ayahku menceritakan bahawa antara nabi-nabi yang bukan rasul ada menerima wahyu dalam bentuk mimpi dan ada yang hanya mendengar suara.
Maka salah seorang nabi yang menerima wahyu melalui mimpi itu, pada suatu malam bermimpi diperintahkan yang berbunyi,
“Esok kau hendaklah keluar dari rumah pada waktu pagi menghala ke Barat. Engkau dikehendaki berbuat :
Pertama : Apa yang engkau lihat (hadadapi), maka makanlah.
Kedua : Engkau sembunyikan.
Ketiga : Engkau terimalah.
Keempat : Jangan engkau putuskan harapan.
Kelima : Larilah engkau daripanya.”
Pada keesokan harinya, Nabi itu keluar dari rumahnya menuju ke barat dan kebetulan yang pertama dihadapinya ialah sebuah bukit besar yang berwarna hitam. Nabi itu kebingungan sambil berkata :
“Aku diperintahkan memakan pertama aku hadapi, tetapi sungguh aneh, suatu yang mustahil yang tidak dapat dilaksanakan”.
Maka Nabi itu terus berjalan menuju ke bukit itu dengan hasrat untuk memakannya. Ketika dia menghadapinya, tiba-tiba bukit itu mengecilkan diri sehingga menjadi sebesar buku roti. Lalu Nabi itu mengambilnya lalu disuapkan kemulutnya. Bila ditelan terasa sungguh manis bagaikan madu. Dia pun mengucapkan syukur Alhamdulillah.
Kemudian nabi itu meneruskan perjalannya, lalu bertemu pula dengan sebuah mangkuk emas. Dia teringat akan arahan mimpinya agar disembunyikan, lantas Nabi itu mengali sebuah lubang lalu ditanamkan mangkuk emas itu, kemudian ditinggalkannya. Tiba-tiba mangkuk emas itu terkeluar semula. Nabi itu menanamkanya semula sehingga tiga kali berturut-turut. Maka berkatalah Nabi itu, “Aku telah melaksanakan perintahmu”. Lalu dia pun meneruskan perjalannya, tanpa disedari oleh Nabi itu, yang mangkuk emas itu keluar semula dari tempat ia ditanam.
Ketika dia sedang berjalan, tiba-tiba dia ternampak seekor burung helang sedang mengejar seekor burung kecil. Kemudian terdengarlah burung kecil itu berkata, “Wahai Nabi Allah tolonglah aku”. Mendengar rayuan itu, dia merasa simpati lalu dia pun mengambil burung itu dan dimasukkan kedalam bajunya. Melihatkan keadaan itu, lantas burung helang itu datang menghampiri Nabi itu sambil berkata, “Wahai Nabi Allah, aku sangat lapar dan aku mengejar burung itu sejak pagi tadi. Oleh itu janganlah engkau patahkan harapanku dari rezekiku”. Nabi itu teringat pesanan arahan dalam mimpinya yang keempat, ia tidak boleh putuskan harapan. Dia menjadi kebingungan untuk menyelesaikan perkara itu. Akhirnya dia membuat keputusan untuk mengambil pedangnya lalu memotong sedikit daging pehanya dan diberikan kepada helang itu. Setelah mendapat daging itu, helang pun terbang dan burung kecil dilepaskan dari dalam bajunya.
Selepas kejadian itu, Nabi meneruskan perjanannya. Tidak lama kemudian, dia betemu dengan satu bangkai yang amat busuk baunya. Lalu dia bergegas lari dari situ kerana tidak tahan menghidu bau yang menyakitkan hidunnya.
Setelah melalui kelima-lima peristiwa itu, maka kembalilah Nabi itu kerumahny. Pada malam itu, Nabi pun berdoa. Dalam doanya dia berkata, ” Ya Allah aku telah melaksanakan perintah Mu sebagaimana yang diberitahu di dalam mimpiku, maka jelaskanlah kepada ku erti semua ini.
Di dalam mimpi Beliau telah diberitahu oleh Allah S.W.T bahawa :
“Yang pertama engkau makan ialah marah. Pada mulanya nampak besar seperti bukit tetapi akhirnya jika bersabar dan dapat mengawal serta manahannya maka marah itu akan menjadi lebih manis daripada madu.
Kedua, semua amal kebaikan (budi) walaupun disembunyikan maka ia Tetap akan nampak juga.
Ketiga, jika sudah menerima amanah seseorang janganlah kamu khianat kepadanya.
Keempat, jika orang meminta kepadamu maka usahakanlah untuknya demi membantu kepadanya meskipun kamu sendiri berhajat.
Kelima, bau yang busuk ialah ghibah ( menceritakan hal seseorang ), maka larilah dari orang-orang yang sedang duduk berkumpul membuat ghibah.”
Saudara-saudaraku, kelima-lima perkara ini hendaklah kita semaikan dalam diri kita, Sebab kelima-lima perkara ini sering sahaja berlaku dalam kehidupan diri kita sehari-hari. Perkara yang tidak dapat kita elakkan setiap hari ialah mengata hal orang lain, memang menjadi tabiat seseorang itu suka mengata hal orang lain. Haruslah kita ingat bahawa kata mengata hal seseorang itu akan menghilangkan pahala kita. Sebab ada sebuah hadis yang mengatakan bahawa di akhirat nanti ada seorang hamba Allah yang terkejut melihat pahala yang tidak pernah dikerjakannya. Lalu dia bertanya “Wahai Allah, bahawa pahala yang kamu berikan ini tidak pernah aku kerjakan di dunia dulu”.
Maka berkata Allah S.W.T “Inilah adalah pahala orang yang mengata-gata tentang dirimu”. Dengan ini haruslah kita sedar, bahawa walaupun apa yang kita kata itu memang benar, tapi kata mengata itu akan merugikan diri kita sendiri. Oleh kerana itu, janganlah kita mengata hal orang lain walaupun benar melainkan perkara-perkara yang dibenarkan oleh syarak dan agama.
Edakwah … … Malaysia
Kelebihan Sembahyang Malam
“Apabila seseorang itu jaga dari tidurnya di waktu malam dan membangkitkan isterinya lalu kedua-duanya sama-sama menunaikan dua rakaat sembahyang nescaya mereka ditulis dalam golongan manusia yang banyak menyintai dan menyebuti ALLAH.” -Diriwayatkan oleh Ibn Hibban dari Abi Sa’id.
Tujuannya
Malam dengan ketenangan dan kejernihan suasananya merupakan sebaik-baik waktu untuk beribadat, kerana itu para mukmin digalakkan mengambil kesempatan-kesempatan keemasan itu untuk mengukuhkan hubungan dan kecintaannya kepada ALLAH. Alangkah qudusnya iman seseorang apabila di saat manusia yang lain sedang tidur nyenyak ia bangkit mendirikan sembahyang dan membangunkan isterinya sembahyang bersama-sama untuk mempersembahkan pujian, harapan, permohonan dan permintaan ampun kepada ALLAH ketika dunia diselubungi sepi dan gelita. Alangkah indahnya pandangan dua manusia suami isteri sama berdiri lurus menghadap qiblat dan sama meletakkan dahi mereka ke lantai di tengah-tengah kekelaman malam untuk membuktikan ‘ ubudiah mereka yang tulus kepada ALLAH, memohon keberkatan hidup dunia dan kebahagiaan hidup di negeri Akhirat.
Di dalam al-Quran dan Hadis terdapat pelbagai sanjungan dan galakan supaya manusia mengejar fadhilat sembahyang malam, firman ALLAH Ta’ala:
” Dan di waktu malam bangkitlah sembahyang tahajjud sebagai sembahyang tambahan bagi ibadatmu semoga ALLAH membangkitkanmu di hari Akhirat dengan kedudukan dan darjat yang terpuji.” – Al – Isra’ (79).
Di dalam surah az-Zariat ayat (18) ALLAH memberi sanjungan yang tinggi kepada amlan-amalan orang-orang yang bertaqwa yang mendapat balasan syurga, di antara amalan itu ialah mereka yang banyak melakukan ibadat sembahyang di waktu malam dan memohon keampunan di saat-saat dinihari.
Waktu sembahyang itu luas, ia boleh dikerjakan di awal malam, di pertengahan malam dan di akhir malam selama sembahyang itu dilakukan selepas sembahyang Isya’. Menurut al-Hafiz Rasulullah s.a.w. tidak sembahyang malam di satu waktu tertentu, malah ia sembahyang mengikut kesempatan dan keselesaan yang didapatinya tetapi waktu sembahyang yang paling afdhal ialah ditengah malam iaitu masa sepertiga malam yang akhir.
Bilangan rakaat sembahyang malam tidak juga ditentukan, ia boleh terlaksanakan dengan satu rakaat sembahyang yang didirikan selepas sembahyang Isya’. Dalam sebuah Hadis Rasulullah s.a.w. bersabda :
“Hendaklah kamu dirikan sembahyang malam walaupun satu rakaat.”
Kelebihan Sedekah
Ada seekor helang datang menghadap kepada Nabi Sulaiman a.s bin Dawud a.s. Berkatalah helang itu, “Wahai Nabi Allah, ada seorang lelaki yang memiliki sebatang pohon dan saya mengerami telurku di atas pohon itu. Tetapi dia mengangkat anak-anakku, lalu dibawanya pulang.”
Nabi Sulaiman a.s memanggil lelaki pemilik pohon dan melarang perbuatan itu. Berkatalah Nabi Sulaiman a.s kepada dua syaitan: “saya memerintahkan engkau berdua, jika datang tahun depan dan lelaki itu mengambil anak dari burung ini, maka tangkaplah dia dan belahlah dia menjadi dua bahagian. Lalu lemparkan sebahagian di dunia timur dan sebahagian lagi di sebelah barat.”
Ketika datang tahun itu, pemilik pohon lupa pesan Nabi Sulaiman a.s dan dia hendak memanjat pohon. Tetapi sebelum memanjat, dia sempat bersedekah dengan sesuap makanan. Lalu diangkatnya anak burung itu dan di bawanya pulang. Burung helang datang menghadap kepada Nabi Sulaiman a.s dan melaporkan perbuatan pemilik pohon. Nabi Sulaiman a.s memanggil dua syaitan dan bermaksud menghukum kedua-duanya. Nabi Sulaiman a.s berkata: “Mengapa kamu berdua tidak melaksanakan tugas yang saya perintahkan?”
Mereka menjawab: “Wahai Khalifah Allah, sesungguhnya pemilik pohon ketika hendak memanjat pohon itu kami bermaksud menangkapnya. Tetapi kerana dia telah bersedekah kepada seorang lelaki muslim dengan sepotong roti, maka Allah mengutus dua malaikat dari langit, sehingga mereka menangkap kami berdua dan melemparkan kami. Seorang dari kami dilemparkan ke dunia timur dan yang lain dilempar ke dunia barat dan dihalangilah usaha kami untuk mencelakakannya disebabkan sedekahnya.”
Taubat wanita buta
Saleh Al-Muri bercerita, bahawa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam. Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan solat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai solat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa:
“Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahsia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja bagiku selain Engkau yang kuharap dapat mengelak bencana yang dahsyat.”
Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: “Wahai puan! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?”
“Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku kerana terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan saya dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan saya, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di nereka nanti.” Kata perempuan tua itu.
Saleh pun ikut menangis kerana sangat terharu mendengar hujjah wanita yang menggerunkan itu.
“Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Kerana saya sudah sangat rindu kepadanya.” Pinta perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang ertinya:
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”
(Al-An’am: 91)
******************************
“Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?” Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.
Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: “Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Perempuan itu menjawab: “Sebaik saja rohku dicabut. saya didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: “Selamat datang wahai orang yang mati akibat terlalu sedih kerana merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku.”
******************************
**************************
Download Buku Ilmiah Percuma http://www.forumbuku.net
Langgan Edakwah! Hantar Blank Emel ke
edakwah@getresponse.com
**************************************************************************************
Air mata Rasllullah saw
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannyamasuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”
Tak tahulah ayahku,orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah,
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”
“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat
aimanuku – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Selamatkah Diri Di Padang Mahsyar
Tazkirah zad_SUK menulis – “Setelah semua mahkluk yang bernyawa dialam nyata ini mati dan hancur binasa, Allah SWT memerintahkan Malaikat Israfil untuk meniupkan angin Sangakala yang hebat itu untuk menghidupkan semula semua mahkluk yang sudah mati Israfil meniup dan berteriak dengan sekuat-kuatnya :”Wahai nyawa yang telah keluar dari badan,tulang-tulang yang telah reput luluh, tubuh yang telah buruk, urat yang telah putus berkecai,kulit-kulit yang telah pecah hancur,rambut-rambut yang telah luruh! Bangunlah kamu semua untuk menjalani hukuman dari Allah SWT yang menjadi Hakim Besar dan Raja kepada semua raja!”
Maka dengan tiba-tiba mereka pun tegak bangun berdiri. Mereka lihat langit,didapati langit berjalan-jalan,mereka lihat bumi,didapati bertukar wajah, tidak seperti bumi yang dahulu, Dilihat bintang-bintang, semuanya telah berhimpun di satu kawasan dengan padatnya. Dilihat laut terdapat api yang sedang bernyala-nyala diatasnya. Dilihat Malaikat Zabaniah telah berada dihadapan mereka. Dilihat matahari telah hilang cahayanya. Maka sedarlah dan tahulah mereka bahawa mereka berada ditempat yang dijanjikan kiamat. Lantas mereka berkata :”Inilah dia sebagaimana yang telah Allah janjikan dan inilah menunjukkan kebenaran para Rasul.” Seperti yang telah Allah sebutkan dalam Al-Quran : “Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami (kubur ) ?” (Yassin: 52 ).
Mereka pun keluar dari kubur tanpa pakaian,tidak berkasut dan sebagainya.Mereka bertelanjang bulat tanpa seurat benang pun dibadan. Dalam masa bangkit itu, manusia dalam keadaan bermacam – macam rupa.
1. Sesetengah mereka ada yang berupa kera kerana di dunia mereka suka membuat fitnah kepada orang lain.
2. Ada yang berupa khinzir kerana suka makan rasuah ketika menjalankan hukuman.
3. Ada yang buta mata kerana keterlaluan pada menghukum manusia.
4. Ada yang pekak dan bisu kerana mereka hairan dengan amalan yang mereka lakukan.
5. Ada yang mengalir daripadanya nanah dan darah yang amat busuk dan sentiasa menikam-nikam lidah sendiri. Ini adalah kumpulan ULAMA yang bercakap dan mengajar tetapi perbuatannya tidak sama dengan apa yang diucapkan.
6. Ada pula yang luka-luka seluruh badan kerana suka menjadi saksi bohong.
7. Ada yang telapak kaki mereka terletak didahi dan terikat kepada ubun-ubun mereka serta menjadi sangat busuk, lebih busuk daripada bangkai. Mereka adalah orang yang sanggup membeli dunia dengan akhirat. (mencari kemewahan dunia dengan memperalatkan agama).
8. Ada seperti orang mabuk, rebah ke kiri, rebah ke kanan terhuyung-hayang.Mereka inilah yang sanggup menyimpan harta dari belanjakan ke jalan Allah.
9. Ada yang berkeadaan benar-benar mabuk, orang ini suka bercerita-cerita dalam masjid akan hal dunia.
10.. Ada yang berupa khinzir kerana suka makan harta riba.
11. Ada yang tidak bertangan dan tidak berkaki.Mereka ini suka menyakiti orang-orang sekampungnya.
12. Ada yang berupa khinzir kerana mereka mempermudah-mudahkan sembahyang (lalai dalam sembahyang).
13. Ada pula yang bangkit dengan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking yang sentiasa mengigit-gigit dan menyengat-nyengat.Mereka ini di dunia payah hendak mengeluarkan zakat.
14. Ada yang berkeadaan dimana darah yang amat busuk sentiasa keluar dari mulut mereka. Orang ini suka berbohong dalam perniagaan.
15. Ada yang sampai terasing daripada manusia serta badannya sangat busuk dari bangkai. Mereka ini suka menyembunyikan maksiat kerana takutkan manusia, tidak takut pada Allah.
16. Ada yang terpotong halkum, keadaannya tercerai dari leher. Orang ini selalu sanggup untuk bersaksi bohong.
17. Ada yang bangun dari kubur tiada berlidah dan mengalir darah busuk dari dalam mulutnya. Orang itu malas mengucap kalimah syahdah.
18. Ada pula yang berjalan dengan kepala di bawah dan kaki di atas langit. Darah dan nanah sentiasa mengalir dari kemaluan mereka. Mereka itu suka berbuat zina semasa hidup.
19. Ada yang berkeadaan muka hitam dan perutnya penuh dengan api neraka. Mereka ini suka memakan harta anak yatim secara zalim.
20. Ada pula yang bangun dengan mengidap penyakit kusta dan sopak. Mereka inilah yang derhaka terhadap kedua ibu bapanya.
21. Ada yang gigi mereka seperti tanduk lembu,lidah mereka terjelir hingga ke perut, najis dan kencing sentiasa keluar dari perut mereka. Mereka adalah orang yang suka meminum arak.
Semoga kita tergolong dalam golongan yang segera menginsafi diri dan bertaubat di atas dosa dan pengkhianatan yang dilakukan terhadap sesama manusia.
WASALLAM
…………………………
PENGHUNI MAHSYAR MERAYU DIPERCEPATKAN HUKUMAN
Satu pertanyaan timbul dikalangan ahli Mahsyar, iaitu berapa lama mereka mesti berada di padang mahsyar ?. Tidak siapapun yg tahu. Perit derita dialami berada disitu, dalam tangis dan keluhan yg tidak berhenti-henti namun mereka tetap dalam keadaan membisu tanpa sepatah kata, dalam keadaan tidak tahu hendak mengadu kepada siapa. Mereka amat lapar tanpa sebutir makanan yg mengisi perutnya, tanpa setitik air yg membasahi tekaknya sejak sekian lama, malah sama sekali tidak pernah merasai hembusan angin yg boleh memberikan sedikit kelegaan.
Berdiri terpacak dengan kedua belah kaki tanpa berganjak setengahnya pula berdiri dgn kepala ke bumi, mereka berkeadaan demikian selama 300 tahun akhirat. Suatu jangka masa yg tidak lagi diukur dengan peredaran bulan atau matahari kerana matahari sudah tidak beredar seperti didunia dahulu. Sesaatpun manusia tidak akan tahan dalam pancaran matahari di atas kepala, betapalah hingga 300 tahun ukuran akhirat. Saidina Hasan r.a menjelaskan bahawa satu hari di bumi mahsyar itu bersamaan 50,000 tahun, setahun mengandungi 365 hari dikali dengan 50,000 tahun dan dikalikan pula dengan 300 tahun akhirat, dengan demikian penghuni mahsyar berdiri selama kira-kira lima ribu juta tahun.
Waktu yg begitu panjang itu hanya sekadar suatu tempoh bagi Allah SWT membiarkan manusia dibumi mahsyar, suatu tempoh deraan yg tidak tertanggung oleh manusia sementara menuggu hari perhitungan amal.. Berdiri dalam berhimpit-himpitan seperti yg diibaratkan oleh Rasululluah s.a.w laksana anak-anak panah yg disumbatkan ke dalam bakul dengan bersesak-sesak. Demikianlah penghuni mahsyar berhimpit padat sehingga tidak ada ruang untuk bernafas, menahan dahaga bagaikan terbakar rengkung dan rasa lapar yg tidak dapat dibayangkan lagi.
Dikala itu tiba-tiba Allah SWT perintahkan seluruh penghuni mahsyar supaya berpaling kearah neraka. Ini arahan pertama dari Allah SWT kepada ahli mahsyar setelah mereka idak dipedulikan selama 300 tahun, tidak dipedulikan oleh Allah sudah merupakan azab buat mereka,betapa pula apabila mereka diarah menghadap ke arah neraka yg apinya menjulang, dengan arahan itu tidak seorang pun yg dapat berpaling dari neraka kecuali mereka yg mendapat rahmat Allah.
Ketika sedang terlalu dahaga, datang malaikat Zabaniah membawa air untuk mereka, pada mulanya ahli mahsyar bergembira tetapi malangnya air itu tersangat panas sehingga apabila mangkuk air itu didekatkan ke mulut ahli mahsyar, lantas daging muka mereka luruh berguguran kerana air yg dibawa oleh malaikat Zabaniah terlalu panas. Muka mereka hanya tinggal tengkorak yg hangus.
Demikianlah Allah SWT menunaikan janjinya bahawa Tuhan akan menjadi raja yg memerintah pada hari akhirat, suatu hari yg amat digeruni oleh para malaikat. Malangnya hari itu telah dilupai oleh para raja dan pemerintah di dunia, sehingga mereka melakukan kezaliman yg besar apabila enggan melaksanakan hukum dan peraturan Allah
Ketika Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya di dunia kebanyakan manusia ambil peduli. Allah SWT berfirman melalui Rasul-Nya menyatakan bahawa kasih sayang Allah mengatasi kemarahan-Nya, dengan sifat-Nya yg Maha Halus dan Maha Penyantun, manusia dirayu dengan penuh kasih sayang agar beriman dengan Allah dan hari akhirat tetapi tidak ramai yg menghiraukan rayuan Allah.
Pada hari Mahsyar tibalah masanya bagi Allah membuktikasn peringatannya tentang bahaya hari akhirat bagi mereka yg mendustakannya. Mahsyar bukanlah hari pembalasan yg sebenar. Ia hanya sekadar suatu perhimpunan sementara menunggu perhitungan amal. Namun kebanyakan ahli mahsyar mengeluh tidak tahan lagi berada lebih lama disana.
Dalam keletihan yg tidak terhingga dan rasa lapar dahaga yg menghiris kerana jutaan tahun (menurut ukuran masa) tidak ada sebutir makanan atau setitik air yg masuk ke perutnya. Ketika itu kedengaran dikalangan mereka yg berkata: “Tidak adakah dikalangan kita yg boleh mengadu dengan Tuhan agar disegerakan hukuman”.
Ada juga terdengar suara dikalangan ahli mahsyar yg memberikan cadangan agar berjumpa Nabi s.a.w.. Ketika inilah baru mereka ingat akan Nabi s.a.w, ketika inilah baru mereka ingat agar berjumpa Nabi, walaupun semasa didunia dahulu mereka langsung tidak menghiraukan seruan nabi, malah ada yg mendustakan dan memusuhi Nabi serta membuat tuduhan terhadap nabi sebagai ahli sihir,orang gila dan sebagainya.

